Senin, 16 Mei 2011

Beda Guru Beda Prestasi

Tugas Mini Proyek akhirnya selesai juga.
Bagi kawan-kawan yang ingin melihat tugas kami secara praktis silahkan klik link di bawah ini :
·        Laporan Tugas mini proyek :
·        Poster Tugas Mini Proyek

Beda Guru Beda Prestasi

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jika kita tanya pada anak kecil tentang cita-citanya, pasti akan kita dapati jawaban mereka mengarah ke seputar profesi dokter, pengacara, polisi, pilot, suster, dll, intinya semua jawaban mereka berkisar kepada profesi orang-orang yang terkenal dan dianggap memiliki penghasilan yang sangat besar.
Namun bagaimana dengan profesi sebagai seorang guru? Hanya segelintir kecil anak-anak yang akan menjawab mereka ingin menjadi guru saat besar. Mengapa demikian? Mungkin itu karena paradigma dimana profesi sebagai seorang guru memiliki penghasilan yang sedikit dan juga kepopuleran menjadi seorang guru belum sepopuler beberapa profesi yang disebutkan tadi.
Kemudian, bagaimana dengan orang-orang yang sekarang telah memiliki predikat sebagai seorang guru? Apakah dulu pada awalnya mereka juga berpendapat sama dengan anak-anak itu? Bisa iya namun bisa juga tidak. Saat beberapa daripada mereka telah memutuskan hal tersebut, mereka tetap konsisten dalam menjalani perannya sebagai seorang guru.
Saat kita lihat dalam penerapan realita pengajaran yang dilakukan para guru tersebut, akan kita temukan berbagai macam hal berbeda dalam penerapannya. Sebut saja dalam hal dasar pemikiran dalam pengajaran. Para guru memiliki motivasi-motivasi tertentu saat mereka memutuskan untuk terjun menjadi seorang guru. Dan sekarang, saat telah menjadi seorang guru, mereka juga memiliki metode-metode pengajaran mereka sendiri yang mereka terapkan dalam menghadapi berbagai karakter muridnya. Tak akan kita dapati dua orang guru yang memiliki persamaan mutlak dalam hal-hal tersebut.
Guru bagi seorang atau bahkan banyak murid merupakan suatu sosok yang sangat membantu mereka dalam belajar. Sehingga muncul suatu anggapan bahwa seluruh pelajaran bersumber dari sang guru saja, sehingga mereka tidak bisa mengerti apa-apa kalau tidak dituntun ataupun kalau tidak dicekoki pelajaran tersebut oleh sang guru.
Maka dari seluruh uraian tersebut peneliti tertarik untuk membahas fenomena yang terjadi pada kalangan guru ini, karena peneliti menemukan beberapa fenomena tentang berbagai alasan, dasar pemikiran, dan dinamika pengajaran yang diterapkan antara Guru Tua (berpengalaman) dengan Guru Muda (baru merintis).

Tujuan
Tujuan penelitian ini yaitu membandingkan pengaruh metode yang diterapkan oleh Guru Tua (berpengalaman) dengan Guru Muda (baru merintis) dalam meningkatkan prestasi siswa.

Manfaat
Manfaat dari penelitian ini, yaitu
*      Mengetahui perbedaan metode pengajaran yang diterapkan antara guru tua (berpengalaman) dengan guru muda (baru merintis)
*      Mengetahui pengaruh teknologi terhadap perubahan metode pengajaran
*      Mengetahui peran nyata dan sampingan seorang guru dalam proses belajar mengajar
*      Mengetahui pengaruh penerapan gaya pengajaran lama dengan gaya pengajaran baru oleh para guru terhadap peningkatan prestasi siswa.
*      Mengetahui pentingnya pembelajaran Leraner-Centered maupun Teacher-Centered
*      Mengetahui peran motivasi sebelum memulai pelajaran


LANDASAN TEORI

Dalam hal ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi, seperti
1.      Teori Motivasi Untuk Meraih Sesuatu
Di dalam teori ini, terdapat dua pembagian motivasi, yaitu Motivasi Ekstrinsik dan Motivasi Intrinsik. Dimana motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang, sedangkan motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang itu.
Teori ini digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan motivasi apa yang mendorong sekaligus membedakan antara para guru tua (berpengalaman) dengan guru muda (baru merintis).
2.      Teori tentang Metode Mengajar
Ada beberapa metode mangajar yang digunakan para guru, garis besarnya yaitu
*      Metode Ceramah
*      Metode Diskusi
*      Metode Tanya-Jawab
*      Metode Demonstrasi
*      Metode Resitasi, dll
Teori tentang metode pengajaran ini digunakan oleh peneliti untuk menjelaskan penggunaan metode antara para guru tua (berpengalaman) dengan guru muda (baru merintis), dan dimana letak kenyamanan penggunaan metode antar guru tersebut.
3.      Teori Perencanaan dan Instruksi Pelajaran
Terdapat dua jenis teori perencanaan dan pelajaran, yaitu
1.      Teacher-Centered
Di dalam pendekatan teori ini, perencanaan dan instruksi disusun dengan ketat dan guru mengarahkan pembelajaran murid. Tiga alat umum yang berguna dalam perencanaan ini, yaitu menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi (klasifikasi) instruksional.
2.      Learner-Centered
Instruksi dan perencanaannya terletak pada siswa, bukan guru Prinsip ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Jadi di dalam pendekatan ini, murid yang lebih banyak aktif daripada guru. Murid berusaha mencari sendiri bahan tambahan materi pelajaran.
4.      Teori seputar Teknologi dan Pendidikan
Menurut Howell & Dunnivant, 2000; Tomei, 2002, Hanya ketika sekolah punya guru yang terlatih secara teknologislah, maka revolusi teknologi akan benar-benar mengubah sekolah-sekolah.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat kita tangkap arti dimana pembelajaran akan semakin maju saat didukung dengan teknologi, apalagi di zaman seperti sekarang ini. Guru-guru harus bisa akrab dengan teknologi yang selalu berkembang, agar dapat mengimbangi pemikiran generasi muda sekarang yang sudah sangat akrab dengan teknologi, sehingga sistem belajar mengajar dapat lebih efektif dilakukan.
5.      Teori tentang Cara Mengajar yang Efektif
Karena mengajar adalah hal yang kompleks dan karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal (Diaz, 1997)
Ada beberapa hal yang dapat menggambarkan gambaran tentang cara mengajar yang baik, yaitu
1.      Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Aspek ini lebih kepada penguasaan materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik.
a.       Penguasaan materi pelajaran
b.      Strategi pengajaran
c.       Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional
d.      Keahlian manajemen kelas
e.       Keahlian memotivasi
f.       Keahlian komunikasi
g.      Bekerja secara efektif pada murid yang multicultural
h.      Keahlian teknologi
2.      Komitmen dan Motivasi
Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid
6.      Mengajar : Antara Seni dan Ilmu Pengetahuan
Dalam mengajar, bisa disebut sebagai seni. Seni disini bisa merujuk pada gaya mengajar, improvisasi pengajaran, serta spontanitas0spontanitas yang terjadi yang bisa menjadi suatu percikan-percikan seni pengajaran.

Alat dan Bahan yang digunakan untuk merealisasikan proyek
            Alat yang peneliti gunakan saat melakukan wawancara dengan para Objek, yaitu
1.      Kamera, yang digunakan untuk pengambilan foto
2.      Hand Phone, yang digunakan untuk merekam sesi wawancara
3.      Notes dan Alat tulis, yang digunakan sebagai pencatat hasil wawancara
Alat yang peneliti gunakan saat menyelesaikan proyek, yaitu
1.      Laptop
2.      Buku
3.      Alat tulis

Analisis Data
Data yang didapat oleh peneliti merupakan data yang didapat melalui wawancara singkat dengan para objek, menghasilkan bahan mentah pembicaraan, yang setelahnya diringkas kedalam bahasa yang dapat menjelaskan seluruh cakupan pertanyaan yang ada.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peneliti, berhubungan dengan dinamika pengajaran yang dilakukan guru yang dilihat pengaruhnya terhadap perilaku siswa dan prestasi siswa secara umum. Selanjutnya pertanyaan itu dihubungkan dengan teori-teori yang telah dijabarkan di atas, sehingga ada alasan bagi peneliti untuk menanyakannya berkaitan dengan dinamika yang ada.

Penjelasan Objek yang dilibatkan dalam proyek
            Objek yang dilibatkan dalam proyek adalah guru-guru dari SMAN 1 Medan. Data diperoleh dengan cara mewawancarai lima (5) orang guru yang dirasa telah mencakup dari guru-guru yang ada. Dimana guru-guru itu terdiri dari guru-guru tua dan guru-guru muda yang berpengalaman dibidang masing-masing namun memiliki jam mengajar yang jauh berbeda antar generasi guru yang dikelompokkan.
            Pengelompokan yang dilakukan peneliti yaitu
1.      Guru Tua, dimana guru tersebut memiliki umur diatas 50 tahun dan sudah lama mengajar di sekolah tersebut, sehingga pengalamannya mengajar pun sudah banyak.
2.      Guru Muda, dimana guru tersebut memiliki umur sekitar 20 tahunan dan baru sebentar mengajar menjadi guru di sekolah tersebut, sehingga masih merintis pengalaman.
Objek-objek tersebut menjawab pertanyaan apa adanya berdasarkan pengalaman yang dimiliki masing-masing pribadi.

Jadwal Pelaksanaan
No
Hari
Kegiatan
Tempat
1.

2.

3.


4.

5.


6.

Selasa, 26 April 2011
Jumat, 6 Mei 2011

Senin, 9 Mei 2011


Selasa, 10 Mei 2011
Jumat, 13 Mei 2011

Sabtu, 14 Mei 2011

Konfirmasi tentang penelitian

Pemberian surat izin

Diskusi tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan

Pelaksanaan wawancara dengan guru-guru

Diskusi penyelesaian mini proyek


Penyelesaian akhir mini proyek

SMA Negeri 1 Medan

SMA Negeri 1 Medan

Fakultas Psikologi USU

SMA Negeri 1 Medan

Fakultas Psikologi USU

Fakultas Psikologi  USU

Kalkulasi Biaya
Transportasi Hari 1                                                                 Rp       16.000
Transportasi Hari 2                                                                 Rp       16.000
Transportasi Hari 4                                                                 Rp       16.000
                                                            Total Biaya                Rp       48.000

PELAKSANAAN
Berikut merupakan uraian pelaksaan yang peneliti lakukan dari awal mula penelitian ini dilakukan hingga tahap penyelesaiannya,
1.      Pada hari pertama, peneliti meninjau tempat penelitian (SMA Negeri 1, Medan) sekaligus melakukan konfirmasi tentang penelitian yang akan dilakukan, serta menjelaskan segala hal yang perlu dijelaskan, seperti tujuan penelitian, fungsinya, dan lain sebagainya.
2.      Pada hari kedua, peneliti kembali menuju lokasi dengan tujuan pemberian surat izin, dimana surat izin tersebut dimaksudkan untuk menyatakan bahwa peneliti melakukan wawancara benar-benar merupakan tugas mata kuliah yang ada dan bukan rekayasa peneliti, sekaligus untuk menetapkan siapa-siapa saja guru yang akan diwawancarai sehingga sebelumnya dapat diizinkan oleh guru yang bersangkutan untuk diwawancarai.
3.      Pada hari ketiga, peneliti melakukan diskusi untuk menentukan pertanyaan yang benar-benar fix untuk ditanyakan pada sesi wawancara nanti, sehingga tidak akan ada pertanyaan yang tidak penting yang ditanyakan.
4.      Pada hari keempat, peneliti kembali menuju lokasi untuk melakukan sesi wawancara dengan guru-guru yang telah ditetapkan sebelumnya.
5.      Pada hari kelima, peneliti melakukan diskusi untuk penyelesaian mini proyek ini. Dalam diskusi ini peneliti menyimpulkan hasil data yang telah di dapat dan merangkumnya, serta menyelesaikan tugas tertulis.
6.      Pada hari keenam, peneliti kembali melakukan diskusi untuk penyelesaian tahap akhir dari mini proyek ini, serta penyelesaian poster sebagai tugas.

PELAPORAN DAN EVALUASI
Laporan
            Berikut akan dirangkum hasil wawancara yang dilakukan peneliti,
A.    Guru Muda
1.      Nama : Anggi Dewi Prabawa, S.Pd
Umur : 24 tahun
Ibu Anggi merupakan guru muda atau guru yang baru merintis sebagai guru. Beliau  masih seorang CPNS dan ditempatkan mengajar di SMAN 1. Beliau mengajar di sekolah itu baru satu tahun. Motivasi beliau menjadi guru, karena kebetulan, beliau lulus di pendidikan guru pada saat beliau mengikuti tes masuk PTN, selanjutnya beliau berusaha tetap menjalani profesinya.  Di dlam kelas beliau menggunakan beberapa metode mengajar, yaitu diskusi, tugas, dan cramah. Jika hanya dihadapkan pada metode Learner dan Teacher, beliau lebih memilih Learner-Centered. Namun, karena dirasa tidak dapat diterapkan pada kenyataan, beliau menjadi memilih Teacher-Centered. Beliau tidak membedakan cara mengajar siswa yang satu dengan yang lain, karena dirasa akan makan waktu yg banyak. Beliau hanya memanfaatkan laptop sebagai media penunjang pembelajaran. Sebelum mengajar  beliau memberi motivasi pada siswa, mengingatkan agar siswa tersebut tidak malas. Beliau terkadang berperan sebagai teman, karena jika tidak begitu, muridnya cenderung tidak menganggap dirinya. Beliau berpendapat kalau mengajar merupakan sebuah seni. Banyak siswa yang malas-malasan saat beliau masuk.

2.      Nama : Febrianto Nst
Umur : 30 th
Pak Febri merupakan guru muda yang baru setahun mengajar di SMA 1 Medan. Beliau menjadi guru karena dorongan keadaan keluarganya yang memiliki yayasan pendidikan, agar bisa terus melanjutkan yayasan, lebih baik beliau menjadi guru. Beliau mengajar menerapkan beberapa metode, seperti sistem kelompok dan praktek. Saat dihadapkan pada metode Learner atau Teacher, beliau lebih memilih keduanya diterapkan pada siswanya, walaupun sebenarnya beliau tak begitu memahami konsep ini. Beliau tidak membedakan pengajaran pada anak yang sistem belajarnya berbeda, beliau menyamakannya. Beliau memberikan motivasi sebelum mengajar. Terkadang beliau menjadikan dirinya teman kepada muridnya, terutama saat ada yang memiliki masalah tentang teknologi. Beliau setuju kalau mengajar itu adalah sebuah seni, karena tiap guru beda cara mengajarnya. Mengajar tidak harus hanya terfokus pada materi. Hambatan mengajar lebih kepada saat sarana belajar tidak mendukung.

B.     Guru Senior
1.      Nama : Remedi Sagala
Umur : 53 tahun
Beliau telah menjadi guru di sekolah itu selama dua puluh sembilan tahun. Motivasi beliau menjadi guru, karena beliau berfikir bagaimana generasi muda selanjutnya jika tanpa pendidikan, karena pendidikan sangat penting dalam membentuk generasi muda selanjutnya. Beliau menerapkan beberapa metode pengajaran, seperti diskusi, eksperimen, dan demonstrasi. Saat dihadapkan pada Learner atau Teacher, beliau beranggapan kalau Learner lebih bagus, agar siswa lebih aktif dalam menemukan dan mencari bahan pelajaran. Beliau cenderung menyamaratakan pengajaran terhadap siswa. Menerapkan teknologi seperti penggunaan internet saat pembelajaran. Beliau terkadang meninggalkan peran sebagai seorang guru bagi murid-muridnya, tapi bukan sebagai teman, lebih sebagai ibu. Walaupun demikian, tetap memperhatikan norma-norma dan batasan-batasannya. Mengajar merupakan sebuah seni. Hambatan saat mengajar lebih kepada perkembangan teknologi, sebab kalau gurunya tidak tanggap teknologi, akan menjadi suatu hambatan besar dalam mengajar.
2.      Nama: Rugun Sihombing
Umur : 59 tahun
Beliau telah mengajar selama dua puluh tiga tahun. Motivasi beliau menjadi guru yaitu untuk mencerdaskan anak bangsa. Metode yang biasa beliau gunakan yaitu tanya jawab dan ceramah. Saat dihadapkan pada metode Learner atao Teacher, beliau lebih setuju menerapkan metode Teacher-Centered. Beliau membedakan cara mengajar pada muridnya yang memiliki cara belajar yang berbeda-beda, tapi tak selamanya. Beliau selalu memberi semangat atau semacam motivasi pada murid sebelum memulai belajar. Beliau beranggapan bahwa mengajar merupakan suatu seni tersendiri. Memberi pelajaran tidak harus selalu monoton. Hambatan yang dihadapi yaitu generasi muda sekarang sangat jarang ada yang tepat waktu, rata-rata murid banyak yang terlambat.
3.      Nama : Hj. Jamilah
Umur : 53 tahun
Beliau telah mengajar di sekolah tersebut sejak tahun 1996. Motivasi beliau dalam mengajar karena beliau beranggapan kalau mengajar itu adalah ibadah. Beliau memiliki hobi untuk mendidik anak-anak. Dalam kelas beliau menggunakn metode seperti eksperimen dan demonstrasi. Jika dihadapkan pada Learner atau Teacher, beliau lebih memilih untuk menerapkan kedua metode tersebut. Beliau menyamakan cara pengajaran terhadap siswanya. Beliau menerapkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, seperti alat-alat prakteknya. Beliau beranggapan kalau mengajar itu bukan merupakan suatu seni. Hambatan yang dirasa, yaitu banyak murid sekarang yang sulit untuk membaca buku, apalagi membaca materi sebelum pelajaran dimulai.

            Berdasarkan rangkuman hasil wawancara yang telah dijabarkan seperti di atas, maka dapat kita simpulkan,
1.      Metode pengajaran lama yang digunakan oleh guru-guru tua yang berpengalaman dirasa lebih memiliki dampak pada prestasi siswa dibandingkan dengan metode pengajaran baru yang digunakan oleh guru-guru muda yang bisa disebut masih baru dalam bidang pengajaran. Dimana metode lama yang digunakan oleh guru-guru tua, merupakan metode yang dirasa senang sama senang. Jika pada saat itu siswa lebih senang menggunakan suatu metode, maka guru akan dengan spontan menggunakan metode tersebut. Beda dengan metode guru-guru muda. Metode baru yang dimaksud yaitu metode yang dianggap kaku, karena mereka menerapkan metode berdasarkan susunan acara. Mereka menetapkan sistem pengajaran sesuai urutan kejadian dengan kaku, tanpa ada selingan-selingan. Jadi terkesan seperti kaku dan memaksa.
2.      Disiplin yang diterapkan guru-guru tua memang memberi kesan kejam kepada siswa, namun dengan cara penyampaian yang pas, tidak menjadikan siswa takut berlebih, namun menjadikan siswa takut dalam arti hormat kepada guru tersebut. Lain halnya dengan guru muda yang menerapkan satu karakter. Ada yang menerapkan karakter kejam, karena mereka baru menjadi guru, jadi beranggapan kalau kejam dapat membuat murid menuruti mereka, namun pada kenyataannya, murid malah menjadi stress saat mengikuti pelajaran, jenuh, dan lain sebagainya sehingga banyak yang keluar kelas atau tidak masuk saat pelajaran itu tiba. Ada satu tipe guru muda lagi yang menerapkan satu karakter lembut. Beliau beranggapan kalau menjadi guru muda yang baru harus memberi kesan lembut, sehingga murid dapat menjadi terbuka kepada guru. Namun pada kenyataanya, dengan karakter lembut seperti itu murid malah remeh kepada sang guru. Seakan akan kalaupun melakukan hal buruk, guru akan tetap lembut tanpa marah. Cara seperti ini juga ternyata membuat siswa malas masuk kelas, karena tidak masuk pun mereka tidak akan dimarahi oleh guru yang lembut tadi.
3.      Pemberian motivasi di awal pelajaran terbukti dapat meningkatkan prestasi siswa, karena itu dapat membuat siswa menjadi terdorong untuk belajar, sehingga mereka akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
4.      Metode Teacher-Centered dan Learner-Centered, keduanya dirasa memberi peran tersendiri dalam sistem pengajaran. Seorang guru di tingkat sekolah menengah masih harus mencekoki muridnya dengan pelajaran, namun disamping itu si murid juga harus melakukan pembelajaran sendiri untuk melengkapi hal yang telah diberikan oleh sang guru disekolah, sehingga dapat lebih maksimal ilmunya.
5.      Praktek penerapan pembedaan mengajar pada murid yang memiliki cara belajar yang berbeda seperti audio, visual, ataupun kinestetik, belum diterapkan secara penuh dalam sekolah itu. Karena mengingat sekolah itu merupakan sekolah negeri yang kapasitas muridnya bisa dibilang melampaui batas, sehingga untuk pembedaan cara mengajar akan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan materi yang harus dikejar banyak. Itulah yang membuat mengapa sebagian besar guru menyamaratakan cara pengajarannya, dan siswa pun harus terbiasa dengan caran pengajaran umum yang dilakukan.
6.      Penerapan teknologi dalam pembelajaran sangat mendukung. Karena cara praktek akan lebih diingat oleh murid, apalagi dalam pelajaran eksak. Guru dapat memberikan contoh langsung kepada murid akan suatu hal yang terjadi, sehingga murid dapat langsung mengetahuai sebab-akibat terjadinya sesuatu hal tersebut.
7.      Kalau dari segi hambatan, yang dirasakan guru-guru tersebut berbeda-beda. Namun ada pernyataan dari guru tua, bahwa hambatan yang mereka lontarkan sebagai jawaban atas pertanyaan kami, merupakan  hambatan yang dirasakan dari dahulu hingga sekarang. Guru yang sudah lama mengajar, merasa tetap terhambat dengan hal yang itu-itu saja.
Itulah beberapa kesimpulan yang kami dapatkan dari wawancara kepada guru-guru. Dimana sebagian mereka sepakat dalam beberapa hal, namun ada juga titik pembeda dimana dapat langsung berperan pada perilaku dan prestasi siswa, seperti yang telah peneliti rangkum ke dalam bentuk poster.

Evaluasi
Proses perencanaan sampai dengan pelaporan dan evaluasi yang peneliti lewati hanya mendapat sedikit hambatan. Hambatan yang peneliti rasakan adalah saat awal pemilihan topik. Disini peneliti menghabiskan lumayan banyak waktu karena menyatukan ide dari tiga pemikiran yang berbeda-beda.
Awalnya peneliti sudah menetapkan topik proyek pada topik kedua dan sudah berjalan sampai tahap wawancara. Tetapi, setelah peneliti kembali berdiskusi kembali, terjadi perubahan perencanaan dan berganti topik. Sehingga proses diulang kembali dari awal.
Setelah perubahan rencana ini, proses dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan hingga laporan serta evaluasi, peneliti tidak memiliki hambatan. Proses yang dilakukan sesuai dengan perencanaan dan pemikiran dari masing-masing peneliti. Sehingga tugas proyek ini dapat peneliti selesaikan dengan tepat waktu.

Testimoni
            Atas nama kelompok, kami seluruhnya terkesan dengan adanya tugas mini proyek ini. Merupakan suatu hal baru yang kami alami. Semoga kedepannya bila ada tugas proyek lagi, kami lebih bisa maksimal mengerjakannya karena kami telah mendapat “pelatihan” dasar mengenai hal ini dengan adanya mini proyek.
            Selain itu, atas nama pribadi, banyak yang kami rasakan saat melaksanakan tugas ini, berikut penjabarannya,
1.      Reza Yoga Pratama
Sebetulnya saat menjalankan proses ini tidak ada kendala yang berarti. Yang saya rasa sangat sulit, yaitu saat pemilihan topik. Karena kelompok kami sempat beberapa kali mengganti topik yang akan digunakan dalam mini proyek ini. Sehingga banyak waktu termakan saat pemilihan topik, sehingga mulainya penelitian ini pun tersendat. Namun selain itu, semuanya saya rasa berjalan dengan baik.
2.      Amelia Soesanto
Kalau untuk saya, keseluruhan saya rasa berjalan dengan baik. Memang seperti yang dikatakan Reza, kami tersendat di pemilihan topik. Beberapa kali sudah berganti-ganti pemikiran dalam pemilihan topik. Namun setelah sudah fix dengan topik yang ada, pelaksanaannya pun berjalan dengan baik. Namun, mungkin karena kami baru pertama kali mendapat tugas proyek seperti ini, jadi terkesan semuanya sulit, padahal saat telah dijalani, semuanya berjalan seperti biasa. Dengan adanya tugas proyek seperti ini, kami mendapatkan hal baru yang seru dan menantang. Sangat menyenangkan.
3.      Cinthya Merdekawaty
Sejak diberikannya tugas mini proyek ini, saya bertanya-tanya dalam hati bagaimana sebenarnya bentuk tugas proyek ini, karena sebelumnya saya belum pernah melakukan proyek seperti ini. Tapi saya merasa tertantang dan ingin mengerjakannya semaksimal mungkin. Selama proses pengerjaan, yang saya rasakan pastinya bermacam-macam, dari bingung, capek, dll. Tapi saya juga merasa menikmati menjalani tugas ini karena teman sekelompok saya yang kooperatif. Melalui tugas proyek ini, saya juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yang sangat berharga.
Contoh Poster
                                             Untuk melihat poster asli silahkan download pada link di atas
Dokumentasi





 

Daftar Pustaka
Santtrock, John W. 2008, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Penerbit: Kencana Prenada Media Group: Jakarta

Nama Anggota kelompok :

Senin, 02 Mei 2011

Pentingkah diterapkan Pendidikan Orang Dewasa ?


Pendidikan bukan hanya untuk anak saja dan terhenti jika seorang itu tumbuh dewasa, tetapi pendidikan juga perlu diterapkan pada orang dewasa. Perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia, dan kemajuan-kemajuan teknologi umumnya, memberi dorongan dan kesempatan orang dewasa untuk kembali belajar, baik meneruskan pendidikan yang dirasa belum selesai, maupun belajar hal-hal baru.
Sebagai konselor, pengetahuan mengenai pendidikan orang dewasa ini penting, yaitu untuk membantu orang dewasa belajar kembali, melalui pelatihan dan kursus. Banyak kursus-kursus dibuka bagi orang dewasa. Di Amerika Serikat kursus-kursus semacam ini banyak merupakan program yang disebut “Adult Education”.

DAFTAR PUSTAKA
Sukadji, S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah. Depok: Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Senin, 25 April 2011

Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah

NAMA :          CINTHYA MERDEKAWATY
                                                                                  NIM     :                      101301111

1.       Apa yang dimaksud dengan : a. Psikologi pendidikan
 b. Psikologi sekolah
a.        Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan.
  Menurut beberapa ahli, psikologi pendidikan dapat didefinisikan sebagai berikut :
Barlow : Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.
Tardif : Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
Witherington : Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.
b.     Psikologi sekolah adalah salah satu aplikasi dari bidang psikologi yang mempelajari seputar pendidikan dalam konteks sekolah. Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi.

2.      Apa beda antara : a. Psikolog Pendidikan
                                  b. Psikolog Sekolah
a.       Psikolog pendidikan dapat didefinisikan sebagai psikolog yang berfokus pada konteks pendidikan.
b.      Psikolog sekolah adalah psikolog yang fokus pada bidang psikologi dalam konteks sekolah.
Perbedaan antara psikolog pendidikan dan psikolog sekolah terletak pada ruang lingkupnya. Psikolog pendidikan memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada psikolog sekolah.
3.      Apa perbedaan bidang tugas dan peranan antara : a. Psikolog pendidikan 
                                                                                  b. Psikolog sekolah
a.       Bidang tugas dan peranan psikolog pendidikan :
·        Seorang psikolog pendidikan berkaitan dengan membantu anak-anak atau orang muda yang mengalami masalah dalam pengaturan pendidikan dengan tujuan meningkatkan proses belajar mereka. Cth : Psikolog pendidikan dapat memberi konseling pada anak-anak atau orang tua yang memiliki anak yang mengalami kesulitan belajar.
·       Psikolog pendidikan juga dapat melibatkan penelitian dan memberikan nasihat mengenai ketentuan dan kebijakan pendidikan. Cth : Psikolog pendidikan dapat melakukan riset mengenai fenomena-fenomena yang sedang terjadi dan memberikan nasihat seputar pendidikan.
·      menilai belajar dan kebutuhan emosional dengan mengamati dan konsultasi dengan tim multi-lembaga untuk memberikan saran tentang pendekatan terbaik dan ketentuan untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan anak. Cth : Psikolog pendidikan dapat menggunakan alat tes untuk menilai belajar dan kebutuhan emosional anak agar

b.      Bidang tugas dan peranan psikolog sekolah :
·         Tingkat psikodiagnostik
Cth : mendiagnostik anak, mengapa tidak bisa atau terlambat dalam kemampuan membaca
·         Tingkat klinis dan konseling
Cth : Terapi apa yang cocok untuk anak
·         Tingkat industri dan organisasi
Cth : memberi nasihat kepada sekolah agar menjadi akreditasi A

SUMBER :
http://ww2.prospects.ac.uk/p/types_of_job/educational_psychologist_job_description.jsp

Senin, 11 April 2011

Apakah Anak yang Mengalami Gangguan Fisik Tetap Dapat Berkomunikasi ?


Gangguan fisik pada anak dapat termasuk gangguan seperti gangguan ortopedik dan gangguan kejang-kejang. Anak-anak yang mengalami gangguan seperti ini, biasanya membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, sperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.
            Gangguan ortopedik adalah gangguan yang biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi.
            Tetapi, walaupun mereka mengalami gangguan fisik sperti ini, itu tidak menyebabkan komunikasi mereka terhambat. Dengan banyaknya perkembangan teknologi saat ini, itu sudah menjadi pendukung bagi anak-anak yang memiliki gangguan.
Seperti contoh, komputer. Komputer bisa membantu proses belajar anak yang terkena gangguan seperti ini. Pena dengan cahaya juga bisa digunakan sebagai penunjuk. Banyak anak yang menderita cerebral palsy bicaranya tidak jelas. Untuk anak seperti ini, synthesizer suara dan ucapan, papan komunikasi, serta peralatan talking notes dan page turners dapat meningkatkan kemampuan komunikasi anak-anak dengan gangguan seperti ini.


DAFTAR PUSTAKA
Santrock.,J.W.2008.Pikologi Pendidikan Edisi Kedua.Jakarta:Prenada Media Group

Selasa, 05 April 2011

Tugas Kelompok : Fenomena Pendidikan

Nama kelompok :
Reza Yoga Pratama (101301027)
Amelia Soesanto (101301045)
Cinthya Merdekawaty (101301111)

Apakah penyebaran pendidikan sudah merata sekarang ini??
Truz apakah orang tua berperan aktif dalam pendidikan anak???
Apa sih pengaruh ekonomi dalam dunia pendidikan??
Sangat banyak pertanyaan yang muncul menyangkut masalah pendidikan. Pendidikan dapat di pandang dari segala sisi, bahkan dari segi ekonomi pendidikan mempunyai arti tersendiri. Dari beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, ada beberapa fenomena pendidikan yang dapat diangkat. Beberapa fenomena yang kami angkat adalah:

1. Distribusi Pendidikan : Kualitas Kota berbeda dengan Desa
Hal ini merupakan salah satu fenomena dalam dunia pendidikan. Mengapa ya Desa tidak pernah mengalahkan kualitas pendidikan di Kota??? Mungkin ini adalah hal yang tidak dipertanyakan oleh orang-orang, sebab di mata mereka itu adalah hal yang wajar. Tapi mereka tak pernah mempertanyakan mengapa itu bisa terjadi. Sebenarnya perbedaan kualitas pendidikan itu tampak dari lulusannya. Sangat jarang orang yang lulusan desa dapat mengalahkan orang yang merupakan lulusan dari kota. Kenapa ya hal itu bisa terjadi???
Pembahasan :
Ditinjau dari Psikologi Pendidikan, kita mengangkat mengenai teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan hasil penelitian, jelas dikatakan bahwa teknologi jauh lebih pesat perkembangannya di kota dari pada desa. Padahal teknologi adalah hal yang sangat mendukung pendidikan. Hal ini lah yang menyebabkan adanya perbedaan kualitas desa dan kota.
Ditinjau dari pendidikan keluarga, secara umum orang yang memiliki keluarga berdomisili di kota memiliki pengetahuan yang lebih maju dari pada di desa. Jadi keluarga di kota lebih tau mengenai pendidikan daripada di desa. Hal ini juga di pengaruhi oleh lingkungan mereka, dimana desa terkesan masih menggunakan system tradisional, sehingga pemikirannya juga masih terikat pada tradisi.
Ditinjuau dari Teori Bimbingan Belajar, kita memandang bimbingan belajar sebagai pendidikan di luar sekolah. Berdasarkan hasil survey, tempat bimbingan belajar lebih banyak terdapat di kota daripada di desa. Di tambah lagi kualitas tempat bimbingan belajar di kota lebih unggul di sertai dengan program yang selalu up to date.

2. Walaupun ekonomi Terbatas, Masih banyak Juga siswa masuk ke PTS
Hal ini menjadi sebuah fenomena yang unik, karena walaupun ekonomi yang kurang, masih banyak juga orang yang masuk ke dalam PTS.
Pembahasan :
Di tinjau dari Psikologi Pendidikan, mengapa yah al itu bisa terjadi?? Biasanya orang yang masuk PTS dikarenakn tidak lulus pada PTN. Tapi bukannya lebih bagus menunggu kesempatan lain??? Ternyata jawabannya tidak. Dpandang dari sisi Psikologis, hal yang dapat kita angkat adalah Teori Motivasi, atau lebih Spesifik bisa digunakan Achievment-Motivation Theory. Walaupun gagal masuk PTN, tetapi mereka masih memuliki motivasi untuk melanjutkan jenjang pendidikan. Ternyata walaupun ekonomi terbatas, itu bukan dijadikan sebagai hambatan bagi mahasiswa PTS, melainkan menjadi motivasi bagi mereka untuk mencapai tujuan tertentu.
Di tinjau dari Pendidikan Keluarga, orang tua mana yang tidak pengen anaknya sukses??? Jawabannya pasti tidak ada. Ternyata bagi orang tua pendidikan anak adalah nomor 1. Dari sinilah mucul anggapan bahwa ekonomi bukanlah penghambat seseorang melanjutkan pendidikan walaupun itu di PTS, kareana banyak orang beranggapan walaupun Input ny besar, pasti outputnya akan sebanding.
Di tinjau dari pendidikan Bimbel, ternyata dalam bimbel sudah diajarkan teknik jika tidak tembus di PTN. Di dalamnya mereka memberikan motivasi-motivasi untuk masuk PTS jika tidak lulus PTN. Hal inilah yang menyebabkan kasus di atas marak terjadi.

3. Ekonomi Tinggi : Lebih mudah masuk PTN??
Fenomena tersebut dapat di pandang dari dua sisi, baik positif maupun negative. Di pandang dari sisi positive, dengan ekonomi yang tinggi, maka kualitas pendidikan pastilah tinggi. Tapi jika di pandang dari sisi negative, dengan ekonomi yang tinggi, hokum rimba menjadi di berlakukan.
Pembahasan :
Di tinjau dari Psikologi Pendidikan, kelompok kami tetap berfokus pada teknologi Informasi. Semakin tinggi ekonomi seseorang itu, maka semakin besar juga kemungkinan di bisa meningkatkan kualitas pendidikan, serta meningkat pula kesempatan masuk ke perguruan tinggi. Berbeda dengan yang memiliki ekonomi rendah, untuk mencari makan saja kadang susah, apalagi masuk ke perguruan tinggi.
Di Tinjau dari Pendidikan Keluarga, orang yang berekonomi tinggi biasanya mengupayakan anak mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi pula. Tapi keluarga dengan ekonomi rendah biasanya anak di suruh bekerja.
Di tinjau dari pendidikan Bimbel, orang dengan ekonomi tinggi memiliki kesempatan yang tinggi untuk mengikuti kegiatan pengajaran di luar sekolah, tapi sebaliknya.

Sumber : http://www.biangkeladi.com/ibu-anak/12758-10-fenomena-pendidikan-di-indonesia.html